Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

CERITA KECIL


Diantara dua pulau
           
Masa-masa kecil yang membahagiakan, kecerian demi keceriaan selalu terpancar dari raut muka anak-anak. Tapi hal itu tidak lah berlaku bagiku , walau terbilang bukan kanak-kanak lagi , aku yang sudah menginjak SD kelas 6 tak merasakan keceriaan yang dialami teman-teman yang lain.   Umurku ketika itu baru 12 tahun dan harus mengambil keputusan yang terbilang besar. ya, aku harus mengambil keputusan apakah aku mau ikut kedua orang tua ku ke pulau kalimantan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya atau akan terus ikut dengan nenek dan kakekku. Menurutku, itu keputusan yang sulit.
Mungkin semua itu karena sudah lama sekali aku tak pernah berkumpul dengan kedua orang tua ku yang sibuk merantau tuk mencari nafkah buat ku dan adik-adik ku. Berbeda dengan kedua adik ku yang bisa langsung memberi keputusan “ya” untuk ikut kedua orang tua di pulau yang tak terbayangkan itu.
Bisikan - bisikan dari orang –orang sekitar yang menceritakan hal-hal yang menakutkan dari pulau itu, hal-hal yang membuat bulu kuduku merinding, hal-hal yang membuat aku berpikir akan hidupku nanti disana , sangat mengerikan. Mulai dari tetangga, teman, guru-guru bahkan nenek dan kakekku pun selalu saja menceritakan hal-hal yang tak mengenakkan dari pulau kalimantan yang akan ku tinggali ,tak ada seorangpun yang mau memberi sedikit informasi yang membuat hati ku mamtap untuk mengikuti kedua orang tua ku kepulau yang tak tau entah dimana itu.
Setiap malam sambil berdoa akan kelulusanku , akupun berdoa dan meminta petunjuk dari yang kuasa mengenai keputusan yang akan ku ambil. Aku selalu saja menagis jika ditanyai akan keputusanku, bukan apa-apa, tapi perasaan yang bercampur aduk itu yang membuat aku susah mengambil keputusan . Perasaan antara rindu kasih sayang orang tua dan takut akan tempat yang mau ku tinggali ditambah ketidak setujuan nenek dan kakek jika aku ke kalimantan.
Tapi sama seperti anak diusiaku , aku lebih memilih mengikuti orang tua ku walau aku masih ragu dengan keputusanku. Keputusan ini ku ambil karena inilah impianku. ya, impianku yang selama ini tak pernah ku ungkapkan . Impianku tuk berkumpul bersama kedua orang tuaku, impian yang setiap aku pejamkan mata selalu ada dan setiap ku membukanya aku selalu kecewa. Impian yang selalu aku tunggu setiap pulang dari sekolah , setiap pembagian rapot ,setiap bulan puasa serta lebaran. Impian itu yang selalu ku tunggu. Walau orang-orang disekitarku tak ada yang menyetujuinya, aku tetap memilih nya bagaimanapun nanti resiko nya.
Hari demi haripun berlalu, semua terasa hanya sekejab mata memandang. Ehhhhmmm kini waktunya aku mengikuti orang tua ku, yahooooo.... ada perasaaan yang amat melegakan dan sedikit rasa takut. Air mataku pun selalu menetes disepanjang perjalanan ku dari rumah nenek-kakek menuju persinggahan sementara orang tuaku. Aku menangisinya karena aku pasti akan merindukan nenek-kakek, teman-temanku, sekolah ku dan semuanya yang telah masuk dalam memori yang telah mengisinya dengan kenangan-kenangan yang tak mungkin terlupakan. ”aku akan merindukan kalian semua”  ucapku dalam hati.  Sembari melambaikan tangan kepada apa saja yang kulihat.
###
 Tiba di pulau sebrang.
yah.... kini aku menginjakkan kakiku di tanah kalimantan, melalui perjalanan yang jauh menyebrangi samudra biru. Dari kumai daerah pangkalanbun aku dan keluargaku memulai perjalanan menuju tempat yang akan kami tempati nanti. Jalan yang kami lalui hanya tumbuhan-tumbuhan saja yang terlihat. Setiap kali terlihat rumah , aku selalu berkata ”ini kah tempat kita”. Orang tua ku selalu menjawab ”belum ,sebentar lagi”.  Berulang-ulang aku bertanya , hanya terjawab seperti itu. Hingga lelah ,aku pun belum sampai ditempat baruku. Bosan ku memandangi jalan yang hanya tumbuhan, bukit,tumbuhan dan bukit ,selalu.
Akhirnya waktu pun berlalu dan tibalah kami ditempat barak orang tuaku, tapi sayang, tempat itu telah dihuni oleh orang lain dan kami pun terpaksa mencari hunian baru. Untung saja kedua orang tuaku telah mengenal orang-orang di daerah SP 5 lamandau sehingga kami mendapat tumpangan selama sehari semalam. Dengan sigap ayahku langsung mencarikan kami tempat hunian dan dapatlah hunian itu tepat diseberang kenalan ayah ku itu, sehingga sore harinya kami langsung saja membersihkan rumah yang tak berhuni lagi.
Saat pertama aku melihat calon tempat hunianku itu hanya perasaan seram yang membuat bulu kuduku merinding. Bagaimana tidak,, rumah itu terlihat amat tua , dan sudah lama tak dihuni oleh siapapun. Tapi tempat itu sudah lebih dari cukup untuk tempat kami berteduh. Didalamnya masih ada 2 ranjang tempat  tidur yang lumayan besar. Dapur yang masih bisa dipakai , sebuah lemari baju yang lebar dan tempat piring, semua itu lebih dari cukup bagi kami. Didaerah halaman nya banyak sekali tumbuhan liar yang menghiasi . tapi bagian samping terdapat buah jambu dan juga belimbing,sedang bagian belakang terdapat banyak buah kopi dan juga jeruk. Ehhhmmm... amat banyak sekali. Apalagi setelah semuanya telah dibersihkan terlihat menyenangkan tanaman-tanaman itu.Hanya satu masalah dari hunian kami itu, yaitu tak adanya sumur, tempat MCK dan tempat mandi. Sehingga ayahku harus membuatnya, tapi masalah sumur kami harus menimba air dari rumah tetangga. Masalah itu tak berarti bayak bagi kami karena mudah saja untuk mengatasinya.
###
Hari pertama masuk sekolah
Hari ini aku bersiap menuju sekolah ku, waktu itu aku diantar oleh ayah ku sedang adik-adik ku diantar oleh ibuku . aku masuk SMP kelas 1 dan adik pertamaku SD kelas 6 sedang adikku yang paling kecil masuk SD kelas 2. Aku diantar oleh ayah menggunakan sepeda ku yang dibawa dari jawa. Aku duduk dibelakang dan ayahku mengayun dari depan. Terasa jauh sekali sekolahku itu. Tiba, di sekolah SMP 7 Bulik aku terkejut karena sekolah yang akan aku pilih itu tepat ditengah-tengah ladang. Ehmm.... aku waktu itu berhenti sekolah hampir satu bulan lebih jadi aku tidak mengikuti kegiatan yang namanya MOS (masa orientasi siswa).
Hari kedua aku masuk sekolah, aku sudah berangkat sendiri dengan sepeda. Saat tiba disana, untung saja masih dalam pencarian kelas jadi aku ngak harus memperkenalkan diri sebagai siswa baru. saat aku memasuki kelas ternyata sudah ada yang mengenaliku ”kamu intan ya” tanyanya. ”iya, kok kamu tahu sih” jawabku.  “ia, aku tahu dari ibumu , diakan dulu jualan di SD kan”. ”iya” jawabku . ”ya, setiap aku belanja , ibumu menunjukkan fotomu  dan bilang ,nanti anak-anakku akan kemari”.  “ohh...ia , namamu  siapa” sapaku. ”nikmah” jawabnya. Sembari duduk aku berpikir seperti itukah rindu seorang mamak kepadaku, sehingga beliau membawa fotoku dan adik-adik ku yang sempat kami abadikan dengan bapak waktu dulu. Dan itu satu-satunya foto ku dan adikku. ya, dulu foto itu kami kirimkan untuk mamak yang mau pergi ke malaisia sebagai TKW. Tapi untung saja tidak jadi.
###
Malam menyapa,kami yang baru menempati rumah tua itu harus menggunakan lampu uplek ”sebutan untuk lampu yang terbuat dari kaleng bekas dan sumbu kompor dengan sumber energi dari minyak tanah” .  Sembari mengatur tempat tidur ,ayah dan mamak dalam satu ranjang. Aku dan kedua adikku dalam satu ranjang yang lain. Suara-suara hewan terdengar, burung-burung berkicau dengan suara sendu, suara anjing melolong, dan entah apa lagi yang berbunyi ketika malam itu. Ketika hendak memejamkan mata ,maka lampu uplek itupun harus dimatikan dengan cara ditiup. Sehingga aku tak bisa memperhatikan dengan benar disekitarku. Suasana seram menyelimuti disekeliling kami. Aku dan kedua adikku harus cepat memejamkan mata dan tak berani melihat disekeliling, bahkan pindah posisi tidurpun kami tak berani. Sekali kali kami mengintip memandangi sekitar , tapi rasa takut yang berlebih membuat kami memejamkan mata kembali.
Waktu terasa sangat lama dimalam itu, tapi tubuh ini terasa masih pegal karena kualitas tidur kami yang jelek. Suara azan subuh yang menggema , membuat aku dan yang lain bergegas tuk menunaikan panggilan Ilahi. Dalam gelap kami meraba-raba mencari korek api, tuk memberi penerangan dirumah tua itu. Semua masih dalam keadaan wajar.mungkin ketakutan yang berlebih dari ku dan kedua adikku yang membuat kami merasa tak enak bermalam disitu.
Pagi,siang dan sore hari terasa mudah saja kami lalui, walau ketika sendiri berdiam dirumah itu membuat bulu kudu merinding, sehingga aku dan adikku biasa keluar rumah tuk memetik buah belimbing yang sudah matang. Kami lebih suka memanjat dan memakan buah diatas dari pada duduk didalam rumah. Berhari-hari kami lakukan kegiatan itu, apalagi sedang musimnya berbuah .
Tapi suatu malam, ketika aku sedang ingin buang air ditemani mamak (karena tempat wc ada diluar rumah ) tak sengaja ketika kami hendak memasuki rumah mamak menoleh kebuah belimbing itu dan berkata “yayuk?? Yuk, yayuk??” mamak memanggil adik terkecilku. Akupun menoleh, ahhhhhh.... (teriak dalam hati  dengan kaki yang bergetar). Kucoba mengucek mata dan menyadarkan diri. Dengan suara gemetar aku berkata ”itu bukan yayauk mak” . “trus siapa?”  tanya mmamak . ”ngak tahu”  jawabku singkat sembari terus berdo’a dalam hati. ”pak pur??” mamakku bertanya kembali. ” Ya sudah lah mak ,ayo kita masuk aja “  kataku mendesak mamak agar tidak banyak bertanya, karena aku sudah ketakutan melihatnya.  Jalan satu-satunya yang harus kami lalui tuk masuk kerumah hanya satu dan harus melewati pohon belimbing itu, dengan terpaksa dan terdiam seribu bahasa , aku menggandeng erat tangan mamak sembari memejamkan mata aku melewatinya.
Ehhhmm... rasa lega dihati,tentram. Tapi sewaktu masuk kerumah aku dan ibuku melihat pak pur sedang asik berbincang dengan bapak ”lok kamu disini pur, trus tadi siapa?”  tanya mamak kepada keluarga bapak yang sedang menjenguk kami dilamandau. ”pocong mak”  jawabku dalam hati karena tak mau mamakku ketakutan nantinya, soalnya mamak ku itu penakut berat.  Masih dalam keadaan takut aku menghampiri adik- adikku yang sudah berada dalam kamar, biasa kami selalu berebut untuk tidur terlebih dahulu karena yang terakhir nanti harus meniup lampu uplek. Karena aku yang terakhir tidur , aku menepuk punggung adik-adikku “bangun-bangun”.  “kenapa to mbak” jawab kedua adikku. “aku tadi, lihat pocong lo, di bawah pohon blimbing “  sembari menutup semua tubuhku dengan selimut. ”ihh,, jangan nakutin gitu donk” jawab adik terbesarku, tutik.  “ini beneran, aku lihat sendiri. Mirip baget dengan yang di TV, dari mukanya sih kayak bapak-bapak ”. Kedua adikku cuek karena mengira aku berbohong dan tertidur kembali.  Aku yang masih ketakutan dan sebel dengan adik-adikku pun ikut memejamkan mata tuk tidur.
Siang harinya, aku menceritakan kejadian itu lebih mendetail kepada kedua adikku. Ku  tunjukkan posisi si pocong, tempat berdirinya tepat dibawah pohon itu. Dibalut dengan kain kafan dengan pandangan yang datar tanpa bergerak. Selidik punya selidik ternyata dulu yang memiliki rumah tua itu ayahnya telah meniggal dunia dan dikubur di perkuburan umum SP 5. Dan dari itu aku megambil kesimpulan kalau pocong itu adalah bapak pemilik rumah  yang sedang melihat penghuni rumahnya.
Kejadien aneh yang lain pun juga terjadi dan kebanyakan selalu malam hari. Ya, waktu pulang dari menonton TV ditetangga,  aku dan adikku yayuk pulang agak akhir. ”yuk kamu kemana?” tanyaku kerana melihat adikku yang aneh kelakuannya. ”itu mbak ada yang manggil” jawabnya sembari berjalan menjauhi rumah. ”siapa yuk,?? Ayo pulang aja” . ”mbak masuk aja dulu, nanti aku nyusul”jawabnya.  Aku berguman karena tak ada seorang pun yang kulihat atau pun mendengar ada yang memanggil adikku. Masuk didalam rumah,  mamak bertanya ” loh... mana yayuk??”. ”tadi katanya ada yang manggil dia, ngak tau tu” jawabku. Tak lama yayuk terlihat dan ketika ditanya hanya diam kemudian langsung tidur.
Kejadian aneh yang lain masih bayak, tapi yang terakhir.... Ya ,bisa disebut terakhir karena kami harus pindah dari rumah tua yang telah mulai menyatu dengan kami itu karena dari keluarga yang punya rumah mau menghuni kembali rumah itu. kami pun pindah kerumah orang atau bisa disebut rumah orang yang sudah dijadikan kandang ayam. Sewaktu semua telah bersih dan barang-barang pun telah terpindah kerumah baru kami(rumah berteduh). Ternyata ayahku kehilangan surat-surat penting. Bapakku sudah mencarinya dimana-mana , dan telah menggeledah dirumah tua itu. Dan sewaktu kami mau membersihkan rumah tua itu sebelum kami benar-benar meniggalkannya, mamak dan aku kembali ke rumah tua tuk mencari surat penting dan membersihkan rumah itu.  Setelah mamak ku mencari dan tak menemukan apapun beliau pun membersihkan bagian belakang rumah.
Tapi, aku yang ketika itu hendak membantu membersihkan dapur, tiba-tiba angin  menghempus ditelinga, dan terdengar dengan samar-samar ” lihatlah di atas lemari”. Dengan segera aku mendatangi lemari tua itu dan ternyata benar ada surat-surat penting bapakku.  Padahal aku tadi sudah mencarinya disitu.  Karena rasa senang, aku  langsung menunjukkannya kepada mamak, dan terlupa kejadian itu.
Hemmm... kejadian- kejadian dirumah tua RT 02 SP 5 lamandau itu takkan terlupakan walau sekarang aku sudah pindah rumah dan belum melihatnya lagi selama 6 tahun lebih.
 Ya,  aku bersyukur kepada ALLAH SWT yang memberi kehidupan untukku dan telah memberi kesempatan untukku tuk tinggal di lamandau , karena dilamandau ini aku banyak mendapat pelajaran , tentang arti persahabatan, arti kehidupan , arti beragama , arti kejujuran, arti cinta dan kesetiaan ,semuanya ku dapati dari sini, dari lamandau yang tercinta. Jaya lamandauku!!!
Share

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar