Diantara
dua pulau
Masa-masa kecil yang
membahagiakan, kecerian demi keceriaan selalu terpancar dari raut muka
anak-anak. Tapi hal itu tidak lah berlaku bagiku , walau terbilang bukan
kanak-kanak lagi , aku yang sudah menginjak SD kelas 6 tak merasakan keceriaan
yang dialami teman-teman yang lain.
Umurku ketika itu baru 12 tahun dan harus mengambil keputusan yang
terbilang besar. ya, aku harus mengambil keputusan apakah aku mau ikut kedua
orang tua ku ke pulau kalimantan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya atau
akan terus ikut dengan nenek dan kakekku. Menurutku, itu keputusan yang sulit.
Mungkin semua itu karena sudah
lama sekali aku tak pernah berkumpul dengan kedua orang tua ku yang sibuk
merantau tuk mencari nafkah buat ku dan adik-adik ku. Berbeda dengan kedua adik
ku yang bisa langsung memberi keputusan “ya” untuk ikut kedua orang tua di
pulau yang tak terbayangkan itu.
Bisikan - bisikan dari orang
–orang sekitar yang menceritakan hal-hal yang menakutkan dari pulau itu,
hal-hal yang membuat bulu kuduku merinding, hal-hal yang membuat aku berpikir
akan hidupku nanti disana , sangat mengerikan. Mulai dari tetangga, teman,
guru-guru bahkan nenek dan kakekku pun selalu saja menceritakan hal-hal yang
tak mengenakkan dari pulau kalimantan yang akan ku tinggali ,tak ada seorangpun
yang mau memberi sedikit informasi yang membuat hati ku mamtap untuk mengikuti
kedua orang tua ku kepulau yang tak tau entah dimana itu.
Setiap malam sambil berdoa akan
kelulusanku , akupun berdoa dan meminta petunjuk dari yang kuasa mengenai
keputusan yang akan ku ambil. Aku selalu saja menagis jika ditanyai akan
keputusanku, bukan apa-apa, tapi perasaan yang bercampur aduk itu yang membuat
aku susah mengambil keputusan . Perasaan antara rindu kasih sayang orang tua
dan takut akan tempat yang mau ku tinggali ditambah ketidak setujuan nenek dan
kakek jika aku ke kalimantan.
Tapi sama seperti anak diusiaku ,
aku lebih memilih mengikuti orang tua ku walau aku masih ragu dengan
keputusanku. Keputusan ini ku ambil karena inilah impianku. ya, impianku yang
selama ini tak pernah ku ungkapkan . Impianku tuk berkumpul bersama kedua orang
tuaku, impian yang setiap aku pejamkan mata selalu ada dan setiap ku membukanya
aku selalu kecewa. Impian yang selalu aku tunggu setiap pulang dari sekolah ,
setiap pembagian rapot ,setiap bulan puasa serta lebaran. Impian itu yang
selalu ku tunggu. Walau orang-orang disekitarku tak ada yang menyetujuinya, aku
tetap memilih nya bagaimanapun nanti resiko nya.
Hari demi haripun berlalu, semua
terasa hanya sekejab mata memandang. Ehhhhmmm kini waktunya aku mengikuti orang
tua ku, yahooooo.... ada perasaaan yang amat melegakan dan sedikit rasa takut.
Air mataku pun selalu menetes disepanjang perjalanan ku dari rumah nenek-kakek
menuju persinggahan sementara orang tuaku. Aku menangisinya karena aku pasti
akan merindukan nenek-kakek, teman-temanku, sekolah ku dan semuanya yang telah
masuk dalam memori yang telah mengisinya dengan kenangan-kenangan yang tak
mungkin terlupakan. ”aku akan merindukan kalian semua” ucapku dalam hati. Sembari melambaikan tangan kepada apa saja
yang kulihat.
###
Tiba di pulau sebrang.
yah.... kini aku menginjakkan
kakiku di tanah kalimantan, melalui perjalanan yang jauh menyebrangi samudra
biru. Dari kumai daerah pangkalanbun aku dan keluargaku memulai perjalanan
menuju tempat yang akan kami tempati nanti. Jalan yang kami lalui hanya
tumbuhan-tumbuhan saja yang terlihat. Setiap kali terlihat rumah , aku selalu
berkata ”ini kah tempat kita”. Orang tua ku selalu menjawab ”belum ,sebentar
lagi”. Berulang-ulang aku bertanya ,
hanya terjawab seperti itu. Hingga lelah ,aku pun belum sampai ditempat baruku.
Bosan ku memandangi jalan yang hanya tumbuhan, bukit,tumbuhan dan bukit ,selalu.
Akhirnya waktu pun berlalu dan
tibalah kami ditempat barak orang tuaku, tapi sayang, tempat itu telah dihuni
oleh orang lain dan kami pun terpaksa mencari hunian baru. Untung saja kedua
orang tuaku telah mengenal orang-orang di daerah SP 5 lamandau sehingga kami mendapat
tumpangan selama sehari semalam. Dengan sigap ayahku langsung mencarikan kami
tempat hunian dan dapatlah hunian itu tepat diseberang kenalan ayah ku itu,
sehingga sore harinya kami langsung saja membersihkan rumah yang tak berhuni
lagi.
Saat pertama aku melihat calon
tempat hunianku itu hanya perasaan seram yang membuat bulu kuduku merinding.
Bagaimana tidak,, rumah itu terlihat amat tua , dan sudah lama tak dihuni oleh
siapapun. Tapi tempat itu sudah lebih dari cukup untuk tempat kami berteduh.
Didalamnya masih ada 2 ranjang tempat tidur yang lumayan besar. Dapur yang masih
bisa dipakai , sebuah lemari baju yang lebar dan tempat piring, semua itu lebih
dari cukup bagi kami. Didaerah halaman nya banyak sekali tumbuhan liar yang
menghiasi . tapi bagian samping terdapat buah jambu dan juga belimbing,sedang
bagian belakang terdapat banyak buah kopi dan juga jeruk. Ehhhmmm... amat
banyak sekali. Apalagi setelah semuanya telah dibersihkan terlihat menyenangkan
tanaman-tanaman itu.Hanya satu masalah dari hunian kami itu, yaitu tak adanya
sumur, tempat MCK dan tempat mandi. Sehingga ayahku harus membuatnya, tapi
masalah sumur kami harus menimba air dari rumah tetangga. Masalah itu tak
berarti bayak bagi kami karena mudah saja untuk mengatasinya.
###
Hari pertama masuk sekolah
Hari ini aku bersiap menuju
sekolah ku, waktu itu aku diantar oleh ayah ku sedang adik-adik ku diantar oleh
ibuku . aku masuk SMP kelas 1 dan adik pertamaku SD kelas 6 sedang adikku yang
paling kecil masuk SD kelas 2. Aku diantar oleh ayah menggunakan sepeda ku yang
dibawa dari jawa. Aku duduk dibelakang dan ayahku mengayun dari depan. Terasa
jauh sekali sekolahku itu. Tiba, di sekolah SMP 7 Bulik aku terkejut karena
sekolah yang akan aku pilih itu tepat ditengah-tengah ladang. Ehmm.... aku
waktu itu berhenti sekolah hampir satu bulan lebih jadi aku tidak mengikuti
kegiatan yang namanya MOS (masa orientasi siswa).
Hari kedua aku masuk sekolah, aku
sudah berangkat sendiri dengan sepeda. Saat tiba disana, untung saja masih
dalam pencarian kelas jadi aku ngak harus memperkenalkan diri sebagai siswa baru.
saat aku memasuki kelas ternyata sudah ada yang mengenaliku ”kamu intan ya”
tanyanya. ”iya, kok kamu tahu sih” jawabku. “ia, aku tahu dari ibumu , diakan dulu jualan
di SD kan”. ”iya” jawabku . ”ya, setiap aku belanja , ibumu menunjukkan
fotomu dan bilang ,nanti anak-anakku
akan kemari”. “ohh...ia , namamu siapa” sapaku. ”nikmah” jawabnya. Sembari
duduk aku berpikir seperti itukah rindu seorang mamak kepadaku, sehingga beliau
membawa fotoku dan adik-adik ku yang sempat kami abadikan dengan bapak waktu
dulu. Dan itu satu-satunya foto ku dan adikku. ya, dulu foto itu kami kirimkan
untuk mamak yang mau pergi ke malaisia sebagai TKW. Tapi untung saja tidak
jadi.
###
Malam menyapa,kami yang baru menempati
rumah tua itu harus menggunakan lampu uplek ”sebutan untuk lampu yang terbuat
dari kaleng bekas dan sumbu kompor dengan sumber energi dari minyak tanah” . Sembari mengatur tempat tidur ,ayah dan mamak
dalam satu ranjang. Aku dan kedua adikku dalam satu ranjang yang lain.
Suara-suara hewan terdengar, burung-burung berkicau dengan suara sendu, suara
anjing melolong, dan entah apa lagi yang berbunyi ketika malam itu. Ketika
hendak memejamkan mata ,maka lampu uplek itupun harus dimatikan dengan cara ditiup.
Sehingga aku tak bisa memperhatikan dengan benar disekitarku. Suasana seram
menyelimuti disekeliling kami. Aku dan kedua adikku harus cepat memejamkan mata
dan tak berani melihat disekeliling, bahkan pindah posisi tidurpun kami tak
berani. Sekali kali kami mengintip memandangi sekitar , tapi rasa takut yang
berlebih membuat kami memejamkan mata kembali.
Waktu terasa sangat lama dimalam
itu, tapi tubuh ini terasa masih pegal karena kualitas tidur kami yang jelek.
Suara azan subuh yang menggema , membuat aku dan yang lain bergegas tuk
menunaikan panggilan Ilahi. Dalam gelap kami meraba-raba mencari korek api, tuk
memberi penerangan dirumah tua itu. Semua masih dalam keadaan wajar.mungkin
ketakutan yang berlebih dari ku dan kedua adikku yang membuat kami merasa tak
enak bermalam disitu.
Pagi,siang dan sore hari terasa
mudah saja kami lalui, walau ketika sendiri berdiam dirumah itu membuat bulu
kudu merinding, sehingga aku dan adikku biasa keluar rumah tuk memetik buah
belimbing yang sudah matang. Kami lebih suka memanjat dan memakan buah diatas
dari pada duduk didalam rumah. Berhari-hari kami lakukan kegiatan itu, apalagi
sedang musimnya berbuah .
Tapi suatu malam, ketika aku
sedang ingin buang air ditemani mamak (karena tempat wc ada diluar rumah ) tak
sengaja ketika kami hendak memasuki rumah mamak menoleh kebuah belimbing itu
dan berkata “yayuk?? Yuk, yayuk??” mamak memanggil adik terkecilku. Akupun
menoleh, ahhhhhh.... (teriak dalam hati dengan
kaki yang bergetar). Kucoba mengucek mata dan menyadarkan diri. Dengan suara
gemetar aku berkata ”itu bukan yayauk mak” . “trus siapa?” tanya mmamak . ”ngak tahu” jawabku singkat sembari terus berdo’a dalam
hati. ”pak pur??” mamakku bertanya kembali. ” Ya sudah lah mak ,ayo kita masuk
aja “ kataku mendesak mamak agar tidak
banyak bertanya, karena aku sudah ketakutan melihatnya. Jalan satu-satunya yang harus kami lalui tuk
masuk kerumah hanya satu dan harus melewati pohon belimbing itu, dengan
terpaksa dan terdiam seribu bahasa , aku menggandeng erat tangan mamak sembari
memejamkan mata aku melewatinya.
Ehhhmm... rasa lega dihati,tentram.
Tapi sewaktu masuk kerumah aku dan ibuku melihat pak pur sedang asik berbincang
dengan bapak ”lok kamu disini pur, trus tadi siapa?” tanya mamak kepada keluarga bapak yang sedang
menjenguk kami dilamandau. ”pocong mak” jawabku
dalam hati karena tak mau mamakku ketakutan nantinya, soalnya mamak ku itu
penakut berat. Masih dalam keadaan takut
aku menghampiri adik- adikku yang sudah berada dalam kamar, biasa kami selalu
berebut untuk tidur terlebih dahulu karena yang terakhir nanti harus meniup
lampu uplek. Karena aku yang terakhir tidur , aku menepuk punggung adik-adikku
“bangun-bangun”. “kenapa to mbak” jawab
kedua adikku. “aku tadi, lihat pocong lo, di bawah pohon blimbing “ sembari menutup semua tubuhku dengan selimut. ”ihh,,
jangan nakutin gitu donk” jawab adik terbesarku, tutik. “ini beneran, aku lihat sendiri. Mirip baget
dengan yang di TV, dari mukanya sih kayak bapak-bapak ”. Kedua adikku cuek
karena mengira aku berbohong dan tertidur kembali. Aku yang masih ketakutan dan sebel dengan
adik-adikku pun ikut memejamkan mata tuk tidur.
Siang harinya, aku menceritakan
kejadian itu lebih mendetail kepada kedua adikku. Ku tunjukkan posisi si pocong, tempat berdirinya
tepat dibawah pohon itu. Dibalut dengan kain kafan dengan pandangan yang datar
tanpa bergerak. Selidik punya selidik ternyata dulu yang memiliki rumah tua itu
ayahnya telah meniggal dunia dan dikubur di perkuburan umum SP 5. Dan dari itu
aku megambil kesimpulan kalau pocong itu adalah bapak pemilik rumah yang sedang melihat penghuni rumahnya.
Kejadien aneh yang lain pun juga
terjadi dan kebanyakan selalu malam hari. Ya, waktu pulang dari menonton TV
ditetangga, aku dan adikku yayuk pulang
agak akhir. ”yuk kamu kemana?” tanyaku kerana melihat adikku yang aneh kelakuannya.
”itu mbak ada yang manggil” jawabnya sembari berjalan menjauhi rumah. ”siapa
yuk,?? Ayo pulang aja” . ”mbak masuk aja dulu, nanti aku nyusul”jawabnya. Aku berguman karena tak ada seorang pun yang
kulihat atau pun mendengar ada yang memanggil adikku. Masuk didalam rumah, mamak bertanya ” loh... mana yayuk??”. ”tadi
katanya ada yang manggil dia, ngak tau tu” jawabku. Tak lama yayuk terlihat dan
ketika ditanya hanya diam kemudian langsung tidur.
Kejadian aneh yang lain masih
bayak, tapi yang terakhir.... Ya ,bisa disebut terakhir karena kami harus
pindah dari rumah tua yang telah mulai menyatu dengan kami itu karena dari
keluarga yang punya rumah mau menghuni kembali rumah itu. kami pun pindah kerumah
orang atau bisa disebut rumah orang yang sudah dijadikan kandang ayam. Sewaktu
semua telah bersih dan barang-barang pun telah terpindah kerumah baru
kami(rumah berteduh). Ternyata ayahku kehilangan surat-surat penting. Bapakku
sudah mencarinya dimana-mana , dan telah menggeledah dirumah tua itu. Dan
sewaktu kami mau membersihkan rumah tua itu sebelum kami benar-benar
meniggalkannya, mamak dan aku kembali ke rumah tua tuk mencari surat penting
dan membersihkan rumah itu. Setelah
mamak ku mencari dan tak menemukan apapun beliau pun membersihkan bagian
belakang rumah.
Tapi, aku yang ketika itu hendak membantu
membersihkan dapur, tiba-tiba angin
menghempus ditelinga, dan terdengar dengan samar-samar ” lihatlah di
atas lemari”. Dengan segera aku mendatangi lemari tua itu dan ternyata benar
ada surat-surat penting bapakku. Padahal
aku tadi sudah mencarinya disitu. Karena
rasa senang, aku langsung menunjukkannya
kepada mamak, dan terlupa kejadian itu.
Hemmm... kejadian- kejadian
dirumah tua RT 02 SP 5 lamandau itu takkan terlupakan walau sekarang aku sudah
pindah rumah dan belum melihatnya lagi selama 6 tahun lebih.
Ya, aku
bersyukur kepada ALLAH SWT yang memberi kehidupan untukku dan telah memberi
kesempatan untukku tuk tinggal di lamandau , karena dilamandau ini aku banyak
mendapat pelajaran , tentang arti persahabatan, arti kehidupan , arti beragama
, arti kejujuran, arti cinta dan kesetiaan ,semuanya ku dapati dari sini, dari
lamandau yang tercinta. Jaya lamandauku!!!
Share






0 komentar:
Posting Komentar